SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Kegiatan Family Gathering and Halal Bi Halal yang digelar KB-TK IT Abata Lombok II tampak sederhana di permukaan: pertemuan orang tua, anak, dan guru dalam suasana hangat pasca-Idulfitri. Namun di balik itu, Sekolah Abata Lombok kembali menegaskan satu prinsip yang jarang diucapkan secara gamblang oleh banyak lembaga pendidikan bahwa setiap peristiwa, sekecil apa pun, adalah ruang belajar.
Kepala Sekolah TK IT Abata Lombok II, Ina Fitriana, dalam keterangannya menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan siswa yang hadir. Namun lebih dari sekadar ucapan terima kasih, pernyataan itu mengandung pesan yang lebih dalam: pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.
“Indahnya berbagi maaf dan manisnya silaturahmi bukan sekadar tema, tetapi nilai yang ingin kami tanamkan langsung melalui pengalaman,” ujarnya.
Pendekatan ini menjadi menarik karena Abata tidak memposisikan kegiatan seremonial sebagai formalitas tahunan, melainkan sebagai bagian dari kurikulum hidup. Anak-anak tidak hanya diajak memahami konsep memaafkan, tetapi merasakannya secara langsung dalam interaksi sosial yang nyata.
Dalam banyak praktik pendidikan konvensional, nilai-nilai seperti empati, silaturahmi, dan saling memaafkan kerap diajarkan secara verbal melalui cerita atau instruksi. Abata mengambil jalur berbeda: menghadirkan pengalaman sebagai guru utama. Di titik ini, batas antara “acara” dan “pembelajaran” menjadi kabur.
Bahkan, ketidakhadiran sebagian siswa dalam kegiatan tersebut tidak dipandang sebagai kehilangan semata. Pihak sekolah tetap menyampaikan doa dan harapan kesembuhan, menjadikan empati sebagai pelajaran kolektif bukan hanya bagi yang hadir, tetapi juga bagi komunitas yang lebih luas.
Sikap reflektif juga terlihat dari pengakuan terbuka atas kekurangan dalam penyelenggaraan acara. Bagi Abata, evaluasi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari budaya belajar institusi. Kesalahan tidak disembunyikan, tetapi dijadikan bahan pembelajaran bersama.
Di sinilah letak kritik implisit terhadap pola pendidikan yang masih menempatkan keberhasilan hanya pada capaian akademik. Abata menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak bisa ditunda atau dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Sekolah ini seolah ingin mengatakan: pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi bagaimana kehidupan itu sendiri dihadirkan sebagai proses belajar.
Jika pendekatan ini konsisten dijalankan, maka setiap momen baik keberhasilan, kekurangan, kehadiran, bahkan ketidakhadiran akan selalu memiliki nilai edukatif.
Dan di tengah sistem pendidikan yang masih sibuk mengejar angka, Abata justru bergerak ke arah yang lebih mendasar yaitu membangun kesadaran manusia.
