Skip to main content
Uncategorized

Mendidik Tanpa Batas: Pesan Saharjo tentang Ilmu, Guru dan Masa Depan ABATA

By May 4, 2026No Comments

SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Di tengah arus pendidikan modern yang kian pragmatis, Dr Saharjo SH MKn MH justru menegaskan kembali fondasi klasik yang kerap dilupakan: belajar adalah proses tanpa batas ruang dan waktu dan ilmu tidak lahir dari instan, melainkan dari relasi yang kuat antara guru dan murid.

Pesan itu disampaikan kepada para siswa SEKOLAH ABATA LOMBOK dalam sebuah refleksi yang sarat makna. Bagi Saharjo, usia, jarak, bahkan keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar.

“Belajar tidak mengenal batas. Sekalipun umur terasa membebani, proses itu tetap harus berjalan. Karena dari situlah ilmu lahir,” ujarnya.

Sebagai pendiri SEKOLAH ABATA LOMBOK, Saharjo menempatkan hubungan antara guru dan murid sebagai inti dari seluruh proses pendidikan. Ia menyebut, ilmu bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan hasil dari ikatan emosional dan spiritual yang terbangun dalam proses belajar.

Dalam pandangannya, guru bukan hanya pengajar, melainkan “ruang samudra” tempat luas yang menyediakan kedalaman makna, pengalaman, dan kebijaksanaan. Dari sanalah, murid tidak hanya memahami pelajaran, tetapi juga menemukan arah hidupnya.

“Pada akhirnya, ilmulah yang menuntun kita sampai pada posisi hari ini, dan akan membawa kita ke masa depan,” kata Saharjo.

Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan seseorang tidak bisa dilepaskan dari peran guru. Karena itu, ia menekankan pentingnya sikap hormat dan kasih sayang kepada para pendidik sebagai bagian dari etika dasar dalam menuntut ilmu.

Di lingkungan SEKOLAH ABATA LOMBOK, nilai tersebut bukan sekadar slogan. Sekolah ini dikenal mengusung pendekatan “mendidik dengan hati”, yang menempatkan relasi manusiawi sebagai fondasi utama pembelajaran. Guru didorong tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing karakter dan penjaga proses tumbuh kembang siswa.

Dalam konteks pendidikan yang semakin kompetitif, gagasan Saharjo menjadi semacam kritik halus terhadap sistem yang terlalu menekankan hasil instan. Ia mengajak siswa untuk kembali pada esensi: belajar sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan penghormatan pada guru.

Bagi Saharjo, di situlah letak kekuatan pendidikan yang sesungguhnya bukan pada cepatnya hasil, tetapi pada dalamnya proses.

Author abatasdit

More posts by abatasdit