SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Percakapan itu berlangsung ringan, hampir tanpa beban. Namun dari ruang sederhana itulah, gagasan tentang pendidikan yang lebih adil terus dirumuskan.
Sekolah Abata Lombok memilih jalur yang tidak populer: inklusi. Bukan sekadar menerima anak dengan kebutuhan khusus, tetapi membangun sistem yang benar-benar memahami mereka.
Di banyak tempat, anak yang terlahir dengan Down Sindrom masih ditempatkan dalam batas-batas yang sempit. Mereka kerap dinilai dari apa yang tidak bisa dilakukan, bukan dari potensi yang mungkin tumbuh
Abata membalik logika itu.
“Masalahnya bukan pada anak, tetapi pada sistem yang belum siap menerima perbedaan,” ujar Dr. Saharjo, SH, MKn, MH, pembina Sekolah Abata Lombok.
Pendekatan inklusi di sekolah ini tidak berhenti pada slogan. Setiap anak dipetakan melalui rencana belajar individual. Guru tidak lagi berdiri sebagai pengajar tunggal, tetapi sebagai fasilitator yang menyesuaikan metode dengan kebutuhan anak.
Di dalam kelas, tidak ada garis tegas antara anak reguler dan anak berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama, berinteraksi, dan saling memahami. Kompetisi perlahan digeser oleh kolaborasi.
Yang dibangun bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial.
Pendekatan ini melahirkan suasana belajar yang berbeda. Anak tidak lagi takut salah, karena kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses. Progres sekecil apa pun dihargai.
“Setiap anak bergerak dengan ritmenya sendiri. Tugas sekolah adalah memastikan mereka tetap bergerak,” kata Saharjo.
Abata juga menempatkan orang tua sebagai bagian dari sistem. Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut di rumah dengan pendekatan yang selaras.
Langkah ini menjadi penting di tengah kecenderungan pendidikan yang masih menuntut keseragaman. Standar yang sama sering kali justru mengabaikan realitas bahwa setiap anak lahir dengan kondisi yang berbeda.
Inklusi, dalam praktik Abata, bukan tentang menyamakan. Ia tentang memberi setiap anak apa yang ia butuhkan untuk berkembang.
Di tengah hiruk-pikuk perubahan pendidikan, pendekatan ini mungkin tampak sederhana. Namun justru di situlah letak kekuatannya: empati yang dijadikan sistem.
Dan dari ruang-ruang kecil seperti itu, arah baru pendidikan perlahan menemukan bentuknya.
