SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Di tengah meningkatnya tren parenting modern, Sekolah Abata Lombok justru mengingatkan satu persoalan yang dinilai masih sering diremehkan banyak orang tua: menganggap perkembangan anak akan berjalan optimal dengan sendirinya tanpa stimulasi yang tepat.

Bagi tim psikolog Sekolah Abata Lombok, cara pandang seperti itu menjadi salah satu penyebab banyak anak mengalami keterlambatan perkembangan yang baru disadari ketika memasuki usia sekolah.
“Perkembangan anak bukan proses otomatis. Otak anak harus distimulasi secara terus-menerus agar potensi kecerdasannya berkembang optimal,” demikian kajian yang disampaikan tim psikolog Sekolah Abata Lombok dalam edukasi parenting yang terus digaungkan kepada para orang tua.
Sekolah Abata Lombok menilai usia 0–5 tahun merupakan fase paling krusial dalam pembentukan kualitas manusia. Pada masa itulah perkembangan motorik, bahasa, emosi, sosial, hingga kemampuan berpikir berkembang sangat cepat dan tidak bisa diulang kembali ketika momentum emas itu terlewat.
Karena itu, pendekatan pendidikan di lingkungan Abata Lombok tidak hanya fokus pada kegiatan belajar di kelas, tetapi juga membangun sistem stimulasi tumbuh kembang yang terintegrasi antara sekolah dan keluarga.
Tim psikolog Abata Lombok secara aktif mendampingi orang tua memahami tahapan perkembangan anak, pola stimulasi harian, hingga cara mendeteksi hambatan perkembangan sejak dini sebelum menjadi masalah besar di masa depan.
Bunda Dita selaku tim psikolog Sekolah Abata Lombok menilai banyak orang tua masih keliru memahami makna tumbuh kembang anak. Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang merasa anak akan otomatis pintar seiring bertambahnya usia, padahal otak anak membutuhkan stimulasi aktif setiap hari.
“Usia dini itu bukan sekadar masa bermain. Ini fase pembentukan jaringan otak paling cepat dalam hidup manusia. Jika anak minim stimulasi, maka banyak potensi perkembangan yang tidak terbentuk optimal,” ujar Bunda Dita.
Ia menjelaskan stimulasi sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan cerita, bermain aktif, melatih kemandirian, hingga membangun interaksi emosional hangat ternyata memiliki dampak besar terhadap perkembangan kecerdasan dan karakter anak.
Menurutnya, salah satu masalah terbesar parenting modern hari ini adalah banyak anak tumbuh dengan fasilitas melimpah tetapi minim interaksi berkualitas.
“Anak sekarang banyak yang ditemani gadget, tetapi kurang ditemani komunikasi. Padahal perkembangan bahasa, sosial, dan emosi anak justru tumbuh dari interaksi nyata bersama orang tua,” katanya.
Bunda Dita juga mengingatkan bahwa keterlambatan perkembangan sering kali baru disadari saat anak mulai masuk sekolah, ketika kemampuan bicara, fokus, kemandirian, atau kemampuan sosial anak terlihat tertinggal dibanding teman sebayanya.
Karena itu, Sekolah Abata Lombok terus memperkuat edukasi parenting dan pendampingan psikologis agar orang tua tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga memahami proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Pendiri Sekolah Abata Lombok, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., menilai pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai rapor, tetapi harus memahami bagaimana manusia tumbuh sejak masa kecil.
Menurutnya, kegagalan memahami fase tumbuh kembang anak akan melahirkan generasi yang secara akademik terlihat baik, tetapi rapuh secara mental, emosional, dan sosial.
“Pendidikan masa depan bukan sekadar mengajar anak membaca dan berhitung. Pendidikan masa depan adalah memahami cara otak, emosi, karakter, dan potensi anak tumbuh sejak dini,” ujar Saharjo.
Karena itu, Sekolah Abata Lombok terus memperkuat ekosistem pendidikan berbasis psikologi perkembangan anak, stimulasi harian, pendidikan karakter, dan kolaborasi aktif bersama orang tua.
Bagi Abata Lombok, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat menitipkan anak. Sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang membantu setiap anak mencapai versi terbaik dirinya sejak tahun-tahun pertama kehidupannya.