SEKOLAH ABATA LOMBOK,Mataram — Di tengah semakin banyaknya anak yang mudah batuk, flu, lemas, sulit fokus, hingga mengalami penurunan daya tahan tubuh, Sekolah Abata Lombok mulai mengingatkan bahwa ancaman terbesar kesehatan anak hari ini bukan semata-mata hujan, es, atau cuaca dingin.

Yang justru lebih berbahaya adalah kebiasaan kecil yang terus dianggap normal di rumah.
Mulai dari gadget yang diberikan terlalu lama demi membuat anak “tenang”, tidur larut malam, konsumsi makanan instan dan minuman manis berlebihan, minim aktivitas fisik, hingga anak yang semakin jarang terkena sinar matahari pagi.
Menurut pendekatan pendidikan yang dibangun Sekolah Abata Lombok, banyak orang tua modern tanpa sadar sedang membesarkan anak dalam pola hidup yang perlahan melemahkan daya tahan tubuhnya sendiri.
Anak terlihat diam, anteng, dan tidak merepotkan. Tetapi tubuhnya kurang bergerak, paru-parunya tidak bekerja optimal, waktu tidurnya rusak, dan sistem imunnya terus dipaksa bekerja dalam kondisi tidak sehat.
Tim Psikolog Sekolah Abata Lombok, Bunda Dita, menilai fenomena tersebut bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik anak, tetapi juga memengaruhi kestabilan emosi dan kemampuan sosial mereka.
Menurutnya, anak-anak yang terlalu lama terpapar gadget cenderung mengalami penurunan fokus, lebih mudah emosional, sulit membangun komunikasi langsung, hingga kehilangan keseimbangan interaksi sosial di dunia nyata.
“Anak sebenarnya tidak hanya membutuhkan hiburan digital. Mereka membutuhkan gerak tubuh, interaksi hangat, permainan nyata, sentuhan emosional, dan kehadiran orang tua secara utuh. Ketika semua digantikan layar, maka perlahan anak kehilangan ruang tumbuh yang sehat,” ujarnya.
Bunda Dita juga menekankan bahwa pola tidur yang buruk dan minim aktivitas luar ruang dapat memengaruhi hormon pertumbuhan, kestabilan emosi, hingga kemampuan anak mengelola stres sejak usia dini.
Karena itu, menurutnya, sekolah dan keluarga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dalam mendidik anak di era digital.
Sementara itu, Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nitza, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa sekolah hari ini tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan.
Menurutnya, sekolah harus menjadi benteng yang menjaga kesehatan fisik, mental, emosional, dan karakter anak di tengah perubahan gaya hidup modern yang semakin tidak terkendali.
“Kalau sekolah hanya fokus pada nilai akademik tetapi membiarkan anak kehilangan kesehatan, kehilangan karakter, dan kehilangan keseimbangan hidupnya, maka pendidikan sedang gagal memahami tugas utamanya,” ujarnya.
Karena itu, Sekolah Abata Lombok mulai memperkuat budaya sekolah yang lebih sehat, lebih hangat, dan lebih manusiawi.
Anak-anak didorong aktif bergerak, berinteraksi langsung dengan teman sebaya, bermain, belajar di ruang terbuka, menjaga ritme tidur, mengurangi ketergantungan layar, hingga membangun kembali kebiasaan hidup alami yang mulai hilang di era digital.
Bagi Abata Lombok, pendidikan bukan sekadar soal nilai tinggi dan prestasi akademik.
Fenomena anak yang mudah sakit dinilai bukan hanya masalah medis, tetapi juga alarm sosial bahwa banyak keluarga mulai kehilangan keseimbangan dalam mendidik anak.
Ketika anak terlalu lama hidup di depan layar, kurang tidur, minim gerak, jarang berinteraksi secara nyata, dan terlalu sering mengonsumsi makanan instan, maka yang tumbuh bukan generasi tangguh, melainkan generasi yang mudah lelah, mudah sakit, sulit fokus, miskin daya tahan, dan rapuh menghadapi tekanan kehidupan.
Di titik inilah Sekolah Abata Lombok menempatkan pendidikan sebagai ruang pemulihan.
Bukan hanya mencetak anak pintar.
Tetapi menjaga agar anak tetap sehat, kuat, aktif, memiliki empati, mampu bersosialisasi, stabil secara emosi, serta tumbuh sebagai manusia yang utuh dan berkarakter.
Karena bagi Abata Lombok, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan anak-anaknya.
Tetapi juga oleh seberapa sehat fisiknya, seberapa kuat mentalnya, seberapa matang emosinya, dan seberapa kokoh karakter yang berhasil dibangun sejak usia dini.