Skip to main content
Uncategorized

ABATA BERQURBAN: Saat Ribuan Hati Belajar Ikhlas dari Tujuh Sapi dan Dua Puluh Sembilan Kambing

By May 29, 2026No Comments

SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Kamis pagi, 28 Mei 2026, halaman Sekolah Abata Lombok II tidak hanya dipenuhi aktivitas penyembelihan hewan qurban. Di tempat itu, ratusan anak menyaksikan pelajaran kehidupan yang mungkin tidak pernah mereka temukan di dalam buku pelajaran.

Ada yang melihat seekor sapi untuk terakhir kalinya sebelum disembelih. Ada yang membantu membungkus daging. Ada yang mengangkat kardus distribusi. Ada pula yang diam memperhatikan sambil bertanya kepada gurunya tentang makna pengorbanan.

Di tengah suasana Idul Adha 1447 Hijriah, keluarga besar Abata Lombok kembali menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, melainkan juga tentang membentuk hati.

Tahun ini, program ABATA BERQURBAN menghimpun kekuatan kolektif yang tidak kecil: 7 ekor sapi, 29 ekor kambing, serta infaq qurban sebesar Rp42.886.000.

Namun bagi Abata, angka-angka itu bukanlah cerita utama.

Cerita utamanya adalah tentang bagaimana ribuan keluarga, guru, siswa, dan masyarakat belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari menerima, tetapi juga dari memberi.

Sejak pagi, suasana gotong royong terlihat begitu kuat. Guru, karyawan, relawan, dan orang tua bekerja berdampingan. Tidak ada sekat jabatan. Tidak ada perbedaan status. Yang terlihat hanya semangat melayani dan berbagi.

Menariknya, semangat kebersamaan tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang hadir di lokasi. Untuk pertama kalinya dalam skala yang lebih luas, seluruh rangkaian kegiatan ABATA BERQURBAN 1447 H disiarkan secara langsung oleh RADIO LOMBOK FM, sehingga masyarakat dapat mengikuti suasana qurban, proses distribusi, hingga pesan-pesan pendidikan yang ingin dibangun Abata Lombok.

Siaran langsung tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat qurban, bukan hanya sebagai kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik tentang nilai keikhlasan, gotong royong, dan kepedulian sosial.

Daging qurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan, warga sekitar, serta keluarga besar Abata Lombok I, II, III, dan IV.

Bagi sebagian penerima, paket daging itu mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun bagi anak-anak yang menyaksikan prosesnya, pengalaman tersebut berpotensi tinggal sepanjang hidup mereka.

Di sinilah qurban berubah menjadi pendidikan karakter yang nyata.

Anak-anak belajar bahwa rezeki tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Mereka belajar bahwa keberhasilan seseorang baru memiliki makna ketika mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain. Mereka belajar bahwa kepedulian sosial bukan sekadar teori yang dibacakan di kelas, tetapi tindakan yang harus diwujudkan.

Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nisza, menegaskan bahwa kegiatan qurban merupakan bagian dari filosofi pendidikan yang selama ini dibangun di lingkungan Abata.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang hidup. Qurban mengajarkan keikhlasan, kepedulian, rasa syukur, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai inilah yang ingin kami tanamkan sejak dini melalui pengalaman nyata, bukan hanya melalui teori di ruang kelas,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga manusia yang mampu merasakan kebutuhan orang lain dan tergerak untuk berbagi.

“Ketika seorang anak melihat proses qurban, ikut membantu distribusi, lalu menyaksikan kebahagiaan penerima manfaat, saat itulah pendidikan karakter bekerja. Itulah pembelajaran kehidupan yang sangat berharga,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia ABATA BERQURBAN 1447 H, Yanda Fikran, menyampaikan rasa syukur atas tingginya partisipasi keluarga besar Abata Lombok tahun ini.

“Alhamdulillah, tahun ini kami menghimpun 7 ekor sapi, 29 ekor kambing, dan infaq qurban sebesar Rp42.886.000. Ini bukan hanya angka, tetapi cerminan besarnya kepercayaan, kepedulian, dan semangat berbagi dari keluarga besar Abata Lombok,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa seluruh proses, mulai dari penghimpunan hewan qurban, penyembelihan, pengemasan, hingga distribusi dilakukan secara gotong royong oleh guru, karyawan, relawan, dan orang tua.

“Yang paling membahagiakan adalah melihat keterlibatan para siswa. Mereka belajar secara langsung bagaimana melayani, berbagi, dan menghargai nikmat yang Allah berikan. Semoga pengalaman ini menjadi bekal karakter yang akan mereka bawa sepanjang hidup,” ujarnya.

Menurut Yanda Fikran, siaran langsung melalui RADIO LOMBOK FM juga menjadi cara untuk menghadirkan semangat qurban kepada masyarakat yang tidak dapat hadir secara fisik.

“Kami ingin nilai-nilai qurban ini menjangkau lebih banyak orang. Karena qurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi tentang menyembelih ego, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat persaudaraan. Melalui siaran radio, pesan itu dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” katanya.

Abata Lombok selama ini dikenal dengan pendekatan mendidik dengan hati. Melalui program ABATA BERQURBAN, nilai tersebut kembali diterjemahkan dalam bentuk yang paling sederhana sekaligus paling menyentuh: mengajarkan empati melalui pengalaman nyata.

Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dari capaian akademik, ranking, dan prestasi kompetitif, Abata mencoba menghadirkan ukuran lain yang tidak kalah penting: seberapa besar seorang anak mampu merasakan penderitaan orang lain dan terdorong untuk membantu.

Karena pada akhirnya, pendidikan tidak hanya melahirkan anak yang cerdas.

Pendidikan yang sesungguhnya melahirkan manusia yang berakhlak.

Mungkin itulah mengapa suasana qurban di Abata selalu menghadirkan nuansa haru yang berbeda. Sebab yang sedang dibangun bukan hanya kegiatan tahunan, melainkan budaya berbagi yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika tujuh sapi dan dua puluh sembilan kambing selesai disembelih, sesungguhnya yang sedang tumbuh bukan sekadar distribusi daging qurban.

Yang sedang tumbuh adalah ribuan hati yang perlahan belajar tentang keikhlasan.

Dan dari sanalah pendidikan bermula.

Author abatasdit

More posts by abatasdit