MATARAM — Tidak ada orang tua yang bangun pagi dengan niat menyakiti anaknya.

Tidak ada ayah yang berangkat bekerja sambil berjanji dalam hati akan membentak putra-putrinya saat pulang nanti.
Tidak ada ibu yang mengandung selama sembilan bulan, menahan sakit saat melahirkan, lalu bercita-cita membuat anaknya menangis karena ketakutan.
Namun dalam ruang-ruang kecil bernama rumah, bentakan itu tetap terjadi.
Bukan karena kurang cinta.
Sering kali justru karena cinta yang sedang kelelahan.
Temuan inilah yang berulang kali muncul dalam berbagai sesi konseling yang dilakukan Tim Psikolog Sekolah ABATA Lombok. Di balik keluhan tentang anak yang sulit diatur, susah belajar, kecanduan gawai, atau sering membantah, tersimpan satu kenyataan yang jauh lebih dalam: banyak orang tua sedang berjuang sendirian menghadapi tekanan hidup yang tidak ringan.
Mereka memikirkan cicilan.
Memikirkan biaya sekolah.
Memikirkan pekerjaan.
Memikirkan masa depan keluarga.
Lalu di tengah semua beban itu, mereka tetap dituntut menjadi orang tua yang sabar setiap waktu.
Dan tidak semua berhasil.
Dalam banyak sesi konseling, air mata justru sering jatuh bukan dari anak-anak, melainkan dari orang tua.
Mereka datang bukan karena tidak sayang kepada anaknya.
Mereka datang karena dihantui penyesalan.
“Saya tahu anak saya tidak salah sebesar itu.”
“Saya tahu tadi saya terlalu keras.”
“Saya tahu dia hanya ingin diperhatikan.”
“Tapi saya lelah…”
Kalimat terakhir itulah yang paling sering terdengar.
Bentakan yang Hanya Berlangsung Beberapa Detik
Secara fisik, bentakan mungkin hanya berlangsung beberapa detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Satu menit.
Namun bagi seorang anak, pengalaman emosionalnya bisa bertahan jauh lebih lama.
Anak mungkin melupakan kata-katanya.
Tetapi sering kali mereka mengingat perasaannya.
Mereka mengingat bagaimana dadanya berdebar.
Bagaimana matanya menahan air mata.
Bagaimana ia merasa menjadi anak yang mengecewakan.
Bagaimana ia merasa tidak cukup baik.
Tim Psikolog ABATA menemukan bahwa sebagian anak yang tampak pendiam sebenarnya bukan karena patuh. Mereka hanya takut salah.
Sebagian anak yang tampak keras kepala sebenarnya bukan karena nakal. Mereka sedang berusaha melindungi dirinya sendiri.
Dan sebagian anak yang terlihat tidak peduli sebenarnya sedang menyimpan luka yang tidak tahu cara mereka ceritakan.
Orang Tua Pun Membutuhkan Pelukan
Salah satu temuan paling menyentuh dari proses konseling adalah kenyataan bahwa banyak orang tua hari ini menjalani perannya tanpa pernah benar-benar diajari bagaimana menjadi orang tua.
Mereka belajar dari pengalaman masa kecilnya.
Mereka mengulang apa yang pernah mereka terima.
Mereka membawa luka yang belum sembuh.
Lalu tanpa sadar, luka itu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bukan karena mereka jahat.
Tetapi karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar cara yang berbeda.
“Kadang yang membutuhkan pertolongan pertama bukan anaknya, tetapi orang tuanya,” ungkap salah satu anggota Tim Psikolog ABATA.
Karena orang tua yang kelelahan akan sulit memberikan ketenangan.
Orang tua yang penuh tekanan akan sulit memberikan rasa aman.
Orang tua yang terluka akan sulit menjadi tempat penyembuhan.
Dari Ruang Konseling Menjadi Gerakan Pengasuhan
Berangkat dari ratusan cerita, tangisan, penyesalan, dan harapan yang mereka dengar, Tim Psikolog ABATA Lombok kemudian menyusun sebuah e-book berjudul “Orang Tua Tanpa Bentakan.”
Buku ini lahir bukan dari teori semata.
Ia lahir dari kisah nyata para ayah dan bunda yang ingin berubah.
Dari mereka yang pernah kehilangan kesabaran.
Dari mereka yang pernah menyesal setelah memarahi anak.
Dari mereka yang diam-diam menangis ketika anak sudah tertidur.
Buku ini mengajak orang tua memahami bahwa disiplin tidak harus dibangun dengan rasa takut.
Bahwa ketegasan tidak identik dengan kemarahan.
Bahwa anak lebih membutuhkan bimbingan daripada ancaman.
Dan bahwa hubungan yang hangat sering kali jauh lebih efektif daripada suara yang keras.
Ketika Anak Dewasa Nanti
Tim Psikolog ABATA meyakini, kelak ketika anak-anak ini dewasa, mereka mungkin tidak akan mengingat nilai ujian yang pernah mereka dapatkan.
Mereka mungkin lupa merek tas sekolah yang pernah dipakai.
Mereka mungkin lupa hadiah yang pernah dibelikan.
Tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat orang tuanya.
Apakah rumah menjadi tempat yang aman untuk pulang.
Atau tempat yang membuat mereka selalu waspada.
Karena pada akhirnya, masa kecil bukan tentang apa yang dimiliki seorang anak.
Masa kecil adalah tentang bagaimana seorang anak merasa dicintai.
Dan mungkin, pendidikan terbaik yang dapat diberikan orang tua bukanlah rumah yang paling mewah atau sekolah yang paling mahal.
Melainkan kemampuan untuk berkata kepada anaknya setiap hari:
“Ayah dan Bunda mungkin tidak sempurna. Kadang kami lelah, kadang kami salah. Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah: kami selalu mencintaimu.”
Di situlah pengasuhan menemukan maknanya yang paling dalam.
Bukan pada bentakan yang terdengar keras.
Melainkan pada cinta yang memilih untuk belajar menjadi lebih baik setiap hari.
Tim Psikolog Sekolah ABATA Lombok
“Mendidik dengan Hati, Menguatkan Keluarga dari Rumah.”