SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Prestasi olahraga bisa dibangun bertahun-tahun. Tetapi satu cedera yang salah ditangani dapat mengubah semuanya dalam hitungan menit.

Kesadaran itulah yang mendorong Sekolah Abata Lombok menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama Cedera Olahraga, Jumat, 4 September 2026 pukul 14.00 WITA. Sekolah menghadirkan fisioterapis Mohammad Aiman Sifa untuk melatih guru Sekolah Abata Lombok dan siswa-siswi SMA Abata Lombok.
Pesannya tegas: cedera olahraga bukan urusan “dipijat dulu” lalu kembali bermain.
Peserta akan dilatih mengenali cedera otot dan sendi, kram, luka dan perdarahan, dugaan patah tulang dan dislokasi, cedera kepala, tanda-tanda bahaya hingga menentukan kapan seorang siswa harus dihentikan dari aktivitas dan mendapatkan pertolongan medis.
Pelatihan dibuat dengan komposisi 30 persen teori dan 70 persen praktik. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka akan menghadapi simulasi kasus sebagaimana cedera benar-benar terjadi di lapangan.
Abata: Prestasi Tanpa Keselamatan Adalah Masalah
Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nitza, S.Pd., Gr., mengatakan sekolah tidak ingin keselamatan baru dibicarakan setelah kecelakaan terjadi.
“Kita sering berbicara tentang bagaimana anak menjadi juara. Tetapi pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: ketika anak jatuh dan cedera di lapangan, apakah orang dewasa di dekatnya tahu apa yang harus dilakukan?”
Menurut Fahrun, guru tidak sedang dipersiapkan menjadi dokter atau fisioterapis. Yang dibangun adalah literasi keselamatan: mampu mengenali kondisi, memberikan pertolongan pertama dalam batas yang tepat, menghindari tindakan yang berisiko memperburuk cedera, dan mengetahui kapan harus merujuk.
“Jangan sampai semangat menolong justru memperparah keadaan karena kita tidak memahami prosedurnya. Karena itu Abata memilih melatih sebelum kejadian, bukan belajar setelah kejadian,” ujar Fahrun.
Dari Sekolah Berprestasi Menuju Sekolah yang Siap Melindungi
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan cara Abata memandang prestasi.
Medali, piala dan kemenangan tetap penting. Namun sekolah menempatkan keselamatan anak sebagai fondasinya. Olahraga yang baik bukan hanya menghasilkan siswa yang kuat dan kompetitif, tetapi juga mengajarkan disiplin, kemampuan membaca risiko, kepedulian terhadap teman dan keberanian mengambil keputusan yang benar ketika keadaan darurat terjadi.
Karena itu pelatihan ini diarahkan lebih jauh daripada sebuah seminar. Abata ingin membangun budaya:
CEGAH sebelum cedera.
KENALI ketika terjadi.
TANGANI dengan benar.
RUJUK ketika diperlukan.
PULIHKAN sebelum kembali berprestasi.
Fahrun menyebut inilah bagian dari pendidikan kehidupan yang ingin dibangun Abata.
“Kami ingin anak-anak Abata berani mengejar prestasi setinggi mungkin. Tetapi ada satu prinsip yang tidak boleh dikorbankan: keselamatan anak lebih tinggi daripada sebuah kemenangan.”
Kalimat itu sekaligus menjadi pesan penting dari lapangan olahraga Abata Lombok:
JANGAN TUNGGU ANAK CEDERA UNTUK BELAJAR MENOLONG.
Sekolah Abata Lombok — Gudang Prestasi, Laboratorium Kehidupan.