Skip to main content
Uncategorized

Tiga Anak ABATA ke Nasional, Jihan Pulang Membawa Satu-satunya Medali untuk NTB

By September 6, 2026No Comments

SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Tiga siswa SD IT ABATA LOMBOK menembus Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026. Satu di antaranya pulang membawa medali untuk Nusa Tenggara Barat.

Jihan Kanya Dewi meraih medali perunggu bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD/MI. Berdasarkan pengumuman Puspresnas Kemendikdasmen, 30 Agustus 2026, Jihan menjadi satu-satunya wakil NTB yang meraih medali pada OSN Nasional jenjang pendidikan dasar 2026.

Jihan tidak berangkat sendiri. Muhammad Ahnaf Alvindra juga berlaga di bidang IPA dan Rasya Indra Pradipta di IPS. Ketiganya berasal dari SD IT ABATA LOMBOK.

Tiga anak dari satu sekolah menembus nasional. Satu medali dibawa pulang untuk NTB.

Namun capaian itu justru menaikkan tuntutan mutu Abata.

Kepala SD IT ABATA LOMBOK, Lia Oktavia, S.Pd., Gr., mengatakan sekolah tak boleh menjadikan keberhasilan Jihan sekadar seremoni.

“Kalau prestasi berhenti pada foto, ucapan selamat, dan piala di lemari, sekolah kehilangan pelajaran terpenting. Keberhasilan ini harus dibedah menjadi sistem yang mampu melahirkan generasi berikutnya,” kata Lia.

Menurut Lia, satu anak hebat belum cukup membuktikan sekolah bermutu. Mutu baru teruji ketika sekolah mampu menemukan potensi banyak anak, membinanya secara konsisten, dan melahirkan prestasi secara berkelanjutan.

Karena itu, ABATA memasang ukuran yang lebih tegas: 100 persen siswa harus memiliki peta potensi individual, anak bertalenta mendapat jalur pembinaan, perkembangan mereka dievaluasi berkala, dan regenerasi prestasi disiapkan setiap tahun.

“Mutu harus punya angka, data, target, dan hasil. Kalau tahun ini tiga anak mencapai nasional, kami tidak boleh puas. Pertanyaannya sekarang: siapa yang sedang kami siapkan berikutnya?” ujar Lia.

Tuntutan yang sama berlaku kepada guru. Guru tak cukup menuntaskan kurikulum. Mereka dituntut mampu membaca kemampuan setiap siswa dan memastikan tidak ada potensi besar yang luput karena sekolah terlambat menemukannya.

“Kalau ada anak berbakat tetapi sekolah gagal menemukannya, yang pertama harus kami evaluasi adalah sistem sekolah, bukan anaknya,” kata Lia.

Medali Jihan akhirnya menjadi prestasi sekaligus tagihan mutu.

Jihan telah membuktikan anak ABATA mampu berdiri di podium nasional dan membawa medali untuk NTB. Kini Abata harus membuktikan bahwa keberhasilan itu bukan kebetulan.

Satu medali dapat dimenangkan seorang anak. Tetapi mutu sekolah hanya terbukti ketika prestasi mampu terus beregenerasi.

Author abatasdit

More posts by abatasdit