Skip to main content
Uncategorized

Anak Disalahkan, Sistem Dilupakan: Cara Sekolah Abata Lombok Membongkar Pola Didik Lama

By May 2, 2026No Comments

SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Kebiasaan menyalahkan anak atas kegagalan proses belajar dinilai masih menjadi praktik umum dalam pendidikan usia dini. Padahal, akar persoalan kerap berada pada metode yang tidak memberi ruang anak untuk memahami prosesnya.

Di tengah kondisi tersebut, Sekolah Abata Lombok mengambil langkah berbeda dengan mengkritisi pendekatan lama yang cenderung menuntut hasil tanpa membangun kesadaran anak.

Pihak sekolah menilai, banyak orang tua dan pendidik masih terjebak pada pola reaktif memarahi anak ketika terjadi kesalahan, tanpa pernah membekali keterampilan dasar yang dibutuhkan anak untuk berhasil.

“Ketika anak terus dianggap tidak mampu, sering kali yang luput dievaluasi adalah sistem belajarnya,” ujar perwakilan manajemen sekolah.

Pendekatan ini terlihat jelas dalam praktik toilet training. Metode konvensional yang berfokus pada respons setelah anak ngompol dinilai tidak efektif karena tidak melatih anak mengenali sinyal tubuhnya sejak awal.

Sebaliknya, Abata Lombok menerapkan pendekatan berbasis kesadaran melalui potty signal system, yakni metode yang melatih anak memahami dan memberi sinyal sebelum buang air. Proses ini dilakukan secara bertahap dan terstruktur, sehingga anak belajar dari pengalaman, bukan tekanan.

Psikolog Abata, Bunda Dita, menegaskan bahwa kegagalan dalam toilet training bukan terletak pada kemampuan anak, melainkan pada absennya proses pembelajaran yang tepat.

“Anak tidak otomatis paham sinyal tubuhnya. Itu harus diajarkan. Kalau pendekatannya hanya reaktif, anak tidak pernah belajar mengenali tanda sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tekanan berlebihan justru dapat menghambat proses belajar anak. “Yang terjadi bukan pemahaman, tapi ketakutan. Ini yang sering disalahartikan sebagai ‘disiplin’,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Manajemen Mutu Pendidikan Abata Lombok, Dr (cand) Hj Amalia Shufiana, menegaskan bahwa pembaruan metode pendidikan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

“Pendidikan hari ini harus berbasis sistem, bukan kebiasaan lama. Kalau metode tidak diperbarui, maka kesalahan yang sama akan terus berulang dan anak yang selalu menjadi korban penilaian,” ujarnya.

Ia menambahkan, standar mutu pendidikan di Abata Lombok dibangun dengan prinsip continuous improvement, di mana setiap metode dievaluasi berdasarkan hasil nyata di lapangan dan perkembangan ilmu terbaru.

“Guru tidak cukup hanya mengajar. Guru harus memahami proses belajar anak secara ilmiah dan berani meninggalkan cara lama yang tidak efektif,” kata Amalia.

Selain itu, Sekolah Abata Lombok secara konsisten memperbarui kompetensi tenaga pendidiknya melalui pelatihan berbasis riset terbaru. Langkah ini dilakukan untuk memastikan metode yang digunakan tetap relevan dengan perkembangan ilmu pendidikan dan kebutuhan anak masa kini.

Pendekatan yang lebih tajam dan kritis ini menjadi penanda perubahan arah dalam praktik pendidikan anak usia dini. Bagi Abata Lombok, mendidik bukan sekadar mengajarkan kepatuhan, tetapi membangun kesadaran dan kemandirian anak melalui sistem yang tepat.

Di tengah banyaknya praktik pendidikan yang masih mengulang pola lama, langkah ini sekaligus menjadi kritik terbuka: tanpa perubahan metode, masalah yang sama akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Author abatasdit

More posts by abatasdit