SEKOLAH ABATA LOMBOK,Mataram — Suasana khidmat menyelimuti Ballroom SD IT ABATA LOMBOK pada 28–29 April 2026. Ratusan siswa mengikuti Parade Tasmi’ Al-Qur’an ke-XII, sebuah agenda tahunan yang tak sekadar menjadi panggung unjuk hafalan, tetapi juga cermin keseriusan sekolah dalam membina prestasi setiap anak secara personal.

Kegiatan tasmi’ yakni memperdengarkan hafalan Al-Qur’an di hadapan penyimak (pentasmi) diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang. Para siswa diuji bukan hanya kelancaran hafalan, tetapi juga ketepatan tajwid, adab membaca, hingga kekuatan mental saat tampil di depan publik.
Pihak sekolah menegaskan bahwa kegiatan ini bukan kompetisi biasa. Setiap anak diposisikan sebagai individu yang memiliki capaian berbeda, dengan pendekatan pembinaan yang dirancang spesifik sesuai kemampuan masing-masing.
“Di ABATA, kami tidak melihat hafalan sebagai angka semata. Setiap anak kami dampingi dengan target yang disesuaikan, mulai dari metode murojaah harian, pendampingan guru, hingga evaluasi berkala. Parade tasmi’ ini adalah bentuk akuntabilitas kami kepada orang tua,” ujar bunda Asmiati pembimbing tahfidz.
Kehadiran para pentasmi yang terdiri dari guru dan tenaga pendidik menjadi elemen penting dalam menjaga kualitas hafalan siswa. Mereka menyimak secara detail, mencatat kesalahan, sekaligus memberikan umpan balik langsung sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Dari sisi orang tua, kegiatan ini memunculkan harapan yang tidak kecil. Banyak di antara mereka melihat tasmi’ sebagai tolok ukur perkembangan anak, sekaligus bukti bahwa pendidikan karakter dan spiritual berjalan beriringan dengan akademik.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya hafal, tapi juga mencintai Al-Qur’an. Ketika mereka berani tampil dan diuji seperti ini, kami merasa proses pendidikan di sekolah benar-benar hidup,” ujar salah satu wali murid yang hadir menyaksikan.
Sementara itu, para guru memandang tasmi’ sebagai momentum penting dalam membangun karakter disiplin dan tanggung jawab. Hafalan Al-Qur’an, menurut mereka, tidak bisa dilepaskan dari proses panjang yang menuntut konsistensi nilai yang juga relevan untuk kehidupan siswa di masa depan.
SEKOLAH ABATA LOMBOK sendiri dikenal mengembangkan sistem pembinaan berbasis per anak, di mana setiap siswa memiliki peta perkembangan yang dipantau secara intensif. Dalam konteks tahfidz, pendekatan ini diterapkan melalui pembagian target hafalan, pemetaan kemampuan, serta pendampingan emosional agar anak tetap menikmati proses belajar.
“Anak-anak tidak boleh merasa terbebani. Justru dari sini mereka belajar mencintai proses. Prestasi itu bukan hasil instan, tapi buah dari pendampingan yang tepat,” kata bunda Nana penanggung jawab program keislaman SEKOLAH ABATA LOMBOK.
Dengan jumlah peserta yang mencapai ratusan, Parade Tasmi’ Al-Qur’an ke-XII menjadi penegasan bahwa pendidikan berbasis nilai dan pembinaan individual masih menjadi fondasi utama di Sekolah Abata Lombok. Di tengah arus pendidikan yang kerap berorientasi angka, pendekatan ini menjadi alternatif bahwa setiap anak memiliki jalur prestasinya sendiri, yang perlu dijaga, diarahkan, dan dihargai.