SEKOLAH ABATA LOMBOK,MATARAM — Sebuah loyang kue panggang bertabur irisan almond menjadi salah satu hasil kreasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler tata boga SEKOLAH ABATA LOMBOK. Bukan semata soal menghasilkan makanan yang enak, kegiatan ini dirancang menjadi ruang belajar bagi anak untuk mengenal proses, ketelitian, keberanian mencoba, hingga tanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya.

Di balik kegiatan tersebut ada Anita Anggraini, penanggung jawab ekstrakurikuler tata boga SEKOLAH ABATA LOMBOK. Anita mengarahkan pembelajaran agar anak tidak sekadar mengikuti resep. Mereka diperkenalkan pada tahapan menyiapkan bahan, menakar komposisi, mengolah adonan, menggunakan peralatan secara aman, memperhatikan waktu pemanggangan, hingga menilai tampilan produk setelah keluar dari oven.
Pendekatan itu membuat dapur berubah menjadi semacam laboratorium kecil. Anak belajar bahwa sedikit kesalahan dalam takaran, suhu, ataupun waktu dapat mengubah hasil akhir. Sebaliknya, kegagalan tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang buruk, melainkan bahan untuk memahami apa yang harus diperbaiki pada percobaan berikutnya.
Anita Anggraini dan Pendidikan dari Dapur
Peran Anita menjadi penting karena ekstrakurikuler tata boga di ABATA diarahkan lebih jauh daripada sekadar kegiatan memasak. Anak-anak dibimbing memahami disiplin, kebersihan, kreativitas, kerja sama, kemandirian, dan keberanian menghasilkan sebuah produk.
Dalam prosesnya, Anita juga mendorong siswa memperhatikan penampilan makanan. Sebuah produk tidak berhenti ketika matang. Warna, tekstur, topping, kebersihan penyajian, hingga bagaimana makanan nantinya diperkenalkan kepada orang lain menjadi bagian dari proses belajar.
Dengan pola semacam ini, tata boga bertemu dengan pendidikan kewirausahaan sejak usia sekolah. Anak mulai mengenal sebuah rantai sederhana: ide—resep—produksi—evaluasi—penyajian—produk.
Bagi SEKOLAH ABATA LOMBOK, pengalaman seperti ini penting karena keterampilan hidup tidak seluruhnya dapat diperoleh dari buku pelajaran. Ada pelajaran yang justru tumbuh ketika anak memegang alat sendiri, melakukan kesalahan sendiri, lalu melihat hasil dari pekerjaan