SEKOLAH ABATA LOMBOK,Mataram — Dalam suasana yang sarat harapan dan ketulusan, Pembina Sekolah Abata Lombok, Dr. Saharjo, SH., M.Kn., M.H., kembali menyampaikan renungan mendalam tentang arah besar pendidikan Abata. Pesan ini bukan sekadar motivasi melainkan peneguhan komitmen bahwa setiap siswa Abata harus maju, tumbuh, dan berani melangkah lebih jauh dari generasi sebelumnya.

Dengan suara yang penuh empati, Saharjo menegaskan bahwa anak-anak Abata harus merasakan manfaat dari seluruh jaringan relasi yang beliau miliki selama puluhan tahun berkiprah sebagai notaris, pengusaha, pemimpin organisasi, dan tokoh masyarakat.
“Relasi itu amanah. Dan amanah itu harus menjadi jalan untuk kemajuan anak-anak Abata,” ujarnya.
Melalui relasi tersebut, para siswa diberikan akses mengenal dunia usaha, dunia profesi, dunia industri, dan berbagai peluang masa depan yang nyata bukan sekadar teori dalam buku pelajaran.
Namun Saharjo melangkah lebih jauh. Dalam renungan ini, ia menyoroti program besar yang kini menjadi identitas Abata Lombok:
Satu Siswa Satu Usaha, hanya di Abata.
Ketika langkah nyata, bukan hanya slogan.
Dengan nada tegas namun hangat, beliau menyampaikan:
“Banyak sekolah bisa membuat slogan, tapi tidak semua berani menjadikannya tindakan. Di Abata, Satu Siswa Satu Usaha bukan kata-kata ini gerakan. Ini jalan hidup yang kita siapkan bagi anak-anak.”
Program ini memadukan praktik usaha, pendampingan, dan akses relasi yang luas. Anak-anak Abata tidak hanya diajarkan teori kewirausahaan, tetapi benar-benar menjalankan usaha mereka sendiri sekecil apa pun bentuknya. Dari menjual produk kreatif, makanan ringan, jasa sederhana, hingga proyek kolaboratif, semuanya diarahkan untuk melatih keberanian, tanggung jawab, mentalitas kerja, dan ketangguhan menghadapi tantangan.
Dalam renungannya, Saharjo mengatakan dengan nada penuh harapan:
“Saya ingin anak-anak Abata melihat bahwa dunia ini luas, dan mereka punya pintu untuk masuk ke dalamnya. Selama saya masih berdiri, saya akan membuka setiap pintu itu untuk mereka.”
Pesan ini menggugah seluruh pendidik Abata bahwa pendidikan sejati bukan hanya mengajar, tetapi mengantarkan. Bukan hanya memberikan ilmu, tetapi menyediakan ruang untuk tumbuh dan bergerak.
Renungan ditutup dengan kalimat yang membuat hati banyak orang bergetar:
“Satu Siswa Satu Usaha hanya di Abata, ketika langkah nyata, bukan hanya slogan. Dan dengan segala relasi yang Allah titipkan kepada saya, anak-anak Abata tidak akan berjalan sendiri.”