SEKOLAH ABATA LOMBOK,Mataram — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah dinilai sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Program ini menargetkan 17,9 juta penerima pada 2025, dengan fokus pada penanganan stunting, peningkatan kecerdasan anak, serta penguatan ekonomi keluarga.

Sekolah Abata Lombok menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi program tersebut. Lembaga pendidikan ini melihat MBG tidak hanya sebagai program bantuan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembangunan yang melibatkan masyarakat secara luas.
Tokoh pendidikan sekaligus pembina Sekolah Abata Lombok, Saharjo, mengatakan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat lokal.
“Program ini bukan sekadar memberi makan, tetapi membangun masa depan. Ketika anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik, maka kualitas berpikir, karakter, dan daya saing mereka akan meningkat,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan MBG yang melibatkan petani, pelaku UMKM, serta tenaga kerja lokal dalam dapur satuan pelayanan gizi merupakan langkah tepat untuk menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.
Sekolah Abata Lombok, lanjutnya, siap memperkuat dampak program melalui integrasi dengan berbagai inisiatif internal. Salah satunya adalah program “satu siswa satu usaha”, yang mendorong setiap siswa memiliki keterampilan kewirausahaan sejak dini, termasuk dalam bidang pengolahan pangan, distribusi bahan baku, hingga inovasi produk bergizi.
Selain itu, Abata juga mensinergikan MBG dengan program Sekolah Lansia Abata, yang melibatkan kelompok lansia dalam aktivitas produktif seperti pengolahan bahan pangan lokal, edukasi gizi keluarga, serta peran sosial dalam menjaga kualitas konsumsi di lingkungan sekitar.
Saharjo menilai, keterlibatan lintas generasi ini akan memperkuat dampak sosial program.
“Ketika siswa dilatih mandiri melalui usaha, dan para lansia tetap diberdayakan dengan pengalaman mereka, maka akan tercipta ekosistem yang utuh. Ini bukan hanya program makan, tetapi gerakan peradaban,” katanya.
Ia berharap program MBG dapat dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, serta mampu mendorong lahirnya kemandirian pangan di tingkat lokal.
“Harapan kami, program ini berkembang menjadi sistem yang berkelanjutan. Sekolah, petani, UMKM, siswa, hingga lansia bisa terhubung dalam satu kekuatan yang saling menguatkan,” ujarnya.
Dengan dukungan berbagai pihak, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menciptakan generasi sehat, cerdas, serta masyarakat yang mandiri dan berdaya saing.

