
RADIO LOMBOK FM,Mataram — Sekolah Abata Lombok terus memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan berbasis ekosistem dengan meluncurkan program kemandirian ekonomi melalui peternakan, perikanan, dan kini merambah sektor pertanian produktif. Tidak sekadar menjadi unit usaha, program ini dirancang sebagai laboratorium hidup yang melibatkan langsung siswa, khususnya dari SMA Abata Lombok.
Di lahan yang mulai ditata sebagai kawasan edukasi terpadu, sebanyak 1.200 ekor ikan gurame ditebar sebagai langkah awal membangun siklus ekonomi produktif berbasis sekolah. Program peternakan juga diperkuat dengan pengembangan 1.200 ekor ayam joper sebagai komoditas unggulan berputar cepat, serta pemeliharaan sapi sebagai aset jangka panjang.
Tak berhenti di sektor ternak dan perikanan, sekolah juga mulai menanam cabai dan terong sebagai bagian dari integrasi pertanian yang mendukung kebutuhan dapur sekaligus membuka peluang pasar. Langkah ini memperkuat konsep kemandirian pangan sekolah sekaligus menjadi sarana pembelajaran agribisnis yang nyata bagi siswa.
Program ini menjadi bagian dari visi besar “Satu Siswa Satu Usaha” yang selama ini menjadi ciri khas SMA Abata Lombok. Para siswa tidak hanya belajar teori kewirausahaan di kelas, tetapi terjun langsung mengelola pakan ternak, merawat tanaman, menghitung biaya produksi, hingga memahami rantai distribusi hasil panen dan ternak.
Keterlibatan siswa menjadi sorotan utama. Setiap kelompok diberikan tanggung jawab spesifik mulai dari manajemen ayam joper, perawatan sapi, monitoring kolam gurame, hingga pengelolaan kebun cabai dan terong. Mereka juga dilatih menyusun laporan keuangan sederhana sebagai bentuk penguatan literasi finansial sejak dini.
“Ini bukan sekadar beternak atau menanam. Ini adalah proses pendidikan yang utuh—mengajarkan kerja keras, konsistensi, dan keberanian menghadapi risiko,” ujar salah satu pembina program di lingkungan sekolah.
Kepala SMA Abata Lombok, Ricca Veronika, S.Pd Gr, menegaskan bahwa program ini menjadi tonggak penting dalam transformasi pendidikan di Abata.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya lulus dengan ijazah, tetapi juga dengan pengalaman hidup. Dari kandang, kolam, hingga kebun, mereka belajar bahwa masa depan dibangun dengan proses. Di sinilah karakter, kemandirian, dan jiwa usaha itu tumbuh,” ungkapnya.
Ia menambahkan, integrasi antara peternakan, perikanan, dan pertanian juga membentuk ekosistem berkelanjutan. Limbah ternak direncanakan menjadi pupuk organik untuk tanaman cabai dan terong, sementara hasil pertanian dapat mendukung kebutuhan konsumsi internal sekolah.
Semangat “terus belajar” menjadi ruh dari seluruh program ini. Di tengah perubahan zaman, Sekolah Abata Lombok menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus selalu berada di dalam kelas melainkan hidup dan tumbuh bersama realitas.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi tempat membangun masa depan yang mandiri. Dan di Abata, masa depan itu sedang ditanam, dipelihara, dan dipanen oleh tangan-tangan muda yang terus belajar tanpa henti.