Skip to main content
Uncategorized

Belajar Melepaskan: Dari Gerbang Sekolah Abata Lombok, Kemandirian Anak Dibangun

By April 23, 2026No Comments

SEKOLAH ABATA LOMBOK,Mataram — Pagi itu, suasana di gerbang Sekolah Abata Lombok tidak sepenuhnya riuh. Seorang anak tampak berdiri sejenak, memandangi sepatunya yang belum terpasang sempurna. Tangannya ragu, matanya sesekali menoleh ke arah orang tua yang berdiri beberapa langkah di belakang.

Tidak ada yang segera menghampiri.

Beberapa detik kemudian, anak itu mulai menunduk. Ia mencoba memasukkan kakinya sendiri. Tidak rapi, tidak cepat, tapi cukup. Ia lalu mengangkat tasnya agak berat dan berjalan masuk ke halaman sekolah.

Pemandangan semacam itu, menurut pihak sekolah, bukan kebetulan. Ia adalah bagian dari perubahan yang sedang dibangun: menggeser cara memaknai kasih sayang dalam pendidikan anak.

“Yang sering tidak kita sadari, bantuan kecil yang kita lakukan setiap hari bisa menjadi kebiasaan yang melemahkan,” ujar Bunda Dita, tim psikolog Sekolah Abata Lombok, saat ditemui pada 22 April 2026.

Ia menyebut, praktik memakaikan sepatu, membawakan tas, atau terus mendampingi anak hingga ke dalam kelas, kerap dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, dalam jangka panjang, hal itu justru mengurangi ruang anak untuk belajar mandiri.

“Anak tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mencoba. Akhirnya yang terbentuk bukan kemampuan, tapi ketergantungan,” katanya.

Menurutnya, karakter anak tidak terbentuk dari intervensi besar, melainkan dari rutinitas kecil yang diulang setiap hari. “Kalau setiap hari anak dilayani, maka setiap hari pula kemandiriannya berkurang, tanpa kita sadari,” ujarnya.

Pendekatan ini kemudian diterjemahkan dalam kebijakan internal sekolah. Ketua Tim Manajemen Mutu Sekolah Abata Lombok, Dr (cand) Hj Amalia Shufiana SSi APT MM, mengatakan bahwa persoalan kemandirian tidak bisa dibebankan kepada anak semata.

“Kalau anak belum mandiri, itu bukan semata masalah anak. Itu tanda bahwa sistem kita belum memberi ruang untuk mandiri,” ucapnya.

Di lingkungan Abata Lombok, perubahan itu dilakukan secara bertahap. Anak-anak dibiasakan datang ke kelas tanpa diantar sampai ke dalam, membawa perlengkapannya sendiri, serta menyelesaikan kebutuhan personal sederhana secara mandiri.

“Ini bukan soal melarang orang tua membantu, tapi mengatur kapan anak perlu dibantu dan kapan ia harus mencoba sendiri,” kata Amel.

Ia mengakui, fase awal perubahan tidak selalu berjalan mulus. Ada anak yang terlihat kebingungan, ada pula orang tua yang merasa tidak tega. Namun, seiring waktu, pola baru mulai terbentuk.

“Anak yang awalnya ragu, perlahan menjadi terbiasa. Dari yang menunggu, menjadi bergerak sendiri,” ujarnya.

Pendekatan ini menjadi bagian dari filosofi yang diusung sekolah: “mendidik dengan hati”. Dalam praktiknya, konsep itu tidak dimaknai sebagai mempermudah semua hal bagi anak, melainkan memberi pengalaman yang cukup agar anak belajar menghadapi tantangan.

Di halaman sekolah, perubahan itu terlihat dalam detail yang sederhana. Anak-anak datang dengan langkahnya sendiri. Sebagian masih tampak kikuk, sebagian lain sudah terbiasa. Tidak semuanya sempurna, tapi prosesnya berlangsung.

Bagi Abata Lombok, pendidikan karakter tidak lahir dari program sesaat, melainkan dari kebiasaan yang dibangun terus-menerus.

“Pada akhirnya, yang kita siapkan bukan hanya anak yang nyaman hari ini,” kata Bunda Dita, “tapi anak yang siap menghadapi kehidupannya nanti.”

Di tengah kekhawatiran banyak orang tua terhadap masa depan anak, pendekatan ini menjadi pengingat: bahwa dalam proses tumbuh, ada saatnya anak tidak hanya ditemani tetapi juga dilepas, perlahan.

Author abatasdit

More posts by abatasdit