SEKOLAH ABATA LOMBOK,Mataram — Semangat kebersamaan kembali terasa hangat di lingkungan Sekolah Abata Lombok. Menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha, keluarga besar sekolah yang dikenal dengan nilai “mendidik dengan hati” ini menunjukkan kekuatan solidaritas yang tidak biasa.
Rekap sementara yang diumumkan pada Kamis, 16 April 2026 mencatat partisipasi aktif dari berbagai jenjang pendidikan dalam bentuk qurban dan infaq. Meski belum seluruh data terkumpul, geliat gotong royong sudah terlihat nyata, terutama dari kontribusi infaq qurban yang mencapai Rp13.957.500. Rinciannya, dari unit KB-TK Abata II sebesar Rp12.747.500 dan SD Abata II sebesar Rp1.210.000.
Di balik angka tersebut, tersimpan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas Sekolah Abata Lombok. Bukan sekadar pengumpulan dana, tetapi sebuah gerakan kolektif yang melibatkan ayah, bunda, guru, dan ananda dalam satu tujuan mulia: berbagi dan menebar keberkahan.
Ketua Panitia Hari Raya Qurban Abata Lombok, Bunda Ricca Veronica, S.Pd.,Gr. dalam wawancara pada Kamis, 16 April 2026, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan bagian dari pendidikan karakter.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga merasakan langsung nilai berbagi, kepedulian, dan kebersamaan. Qurban ini adalah pembelajaran hidup,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa tahun ini Sekolah Abata Lombok menargetkan capaian yang cukup ambisius: 9 ekor sapi dan 36 ekor kambing. Target tersebut bukan sekadar angka, tetapi simbol dari harapan besar akan semakin kuatnya kebersamaan keluarga Abata.
Menariknya, semangat qurban ini tidak berhenti di internal sekolah. Selama ini, Sekolah Abata Lombok dikenal sebagai lembaga pendidikan yang selalu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Daging qurban yang terkumpul nantinya tidak hanya dinikmati oleh keluarga besar sekolah, tetapi juga disalurkan kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan.
Kehadiran Abata di tengah masyarakat bukan sekadar sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat kebaikan sosial. Program-programnya secara konsisten menghadirkan manfaat nyata mulai dari edukasi, kepedulian lingkungan, hingga aksi berbagi seperti qurban ini.
Di tengah berbagai tantangan, semangat guyub rukun justru menjadi kekuatan utama. Orang tua, guru, dan siswa bergerak dalam satu irama. Tidak ada sekat, tidak ada jarak yang ada hanya keinginan bersama untuk terus menumbuhkan kebaikan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa Sekolah Abata Lombok bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah ekosistem keluarga yang hidup. Di dalamnya, nilai-nilai kebersamaan tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan secara nyata.
Program qurban pun menjadi bukti bahwa pendidikan terbaik tidak selalu datang dari buku, tetapi dari pengalaman langsung yang menyentuh hati.
Pesan Saharjo, Pembina Sekolah Abata Lombok:
“Kekuatan terbesar kita bukan pada jumlah, tetapi pada kebersamaan. Ketika hati kita bersatu dalam kebaikan, maka keberkahan akan datang tanpa batas. Qurban ini bukan hanya ibadah, tapi juga jalan kita membangun generasi yang peduli dan berjiwa besar.”
Dengan semangat yang terus menyala, keluarga besar Sekolah Abata Lombok optimistis bahwa target qurban tahun ini bukan hanya akan tercapai, tetapi juga meninggalkan jejak nilai yang mendalam bagi setiap ananda.
Di Abata, kebersamaan bukan sekadar slogan. Kebersamaan adalah budaya. Dan dari sanalah, masa depan yang penuh harapan dibangun.
